Tadabbur Hadits; Kita Merindukan Teman Yang Dapat Membawa Kita Menuju Surga. InsyaAllah tadabbur hadits ini dapat memberikan pengaruh dan berbekas dalam hati anda. Dari sahabat Abu Hurairah (semoga ridla Allah selalu tercurah baginya), dari Rasulullah: “Bahwa ada seorang laki-laki datang berkunjung kepada saudaranya yang berada di kampung lain.Jakarta -. Ada sebuah riwayat yang mengisahkan tentang laki-laki pendosa yang masuk surga dan ahli ibadah yang masuk neraka. Keduanya berasal dari kalangan bani Israil. Kisah ini diceritakan dalam riwayat Abu Hurairah RA yang mengisahkannya dari Rasulullah SAW dan turut termuat dalam buku 40 Ucapan Terlarang karya Abdillah F Hasan.
Saking cintanya kepada umatnya, beliau selalu mendoakan umatnya dan menghabiskan waktunya untuk kemaslahatan umatnya, bukan memikirkan dirinya atau keluarganya. Salah satu bukti kecintaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada umatnya diceritakan dalam satu riwayat.Hadits tentang Bisnis. 1. HR. Al-Bukhari dan Muslim. “Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: ‘Janganlah seseorang di antara kalian memakan harta saudaranya dengan cara yang tidak halal; kecuali jika saudaranya rela’.”. Hadits ini menunjukkan bahwa dalam bisnis, tidak boleh ada tindakan yang merugikan pihak lain.
“Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari.” (HR. Bukhari 6237 dan Muslim 2560). Anda bisa perhatikan hadis di atas, Islam tidak melarang umatnya untuk membenci muslim yang lain secara mutlak. Karena setiap muslim yang merasa telah didzalimi orang lain, dia pasti akan membencinya.
Mengutip buku Menakar Kadar Toleransi: Majalah Tebuireng Edisi 80, berikut beberapa kisah tentang sikap toleransi yang dicontohkan Rasulullah SAW: 1. Kisah Toleransi Rasulullah SAW terhadap Kaum Thaif. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, terdapat sebuah kejadian yang menunjukkan sikap toleran dari Rasulullah SAW. Sebagian ulama mengatakan ihtiba’ hampir sama dengan qurfusa’, seperti yang disebutkan dalam hadis di atas. Hanya saja terkadang, ketika duduk dengan cara ihtiba’, orang Arab pada masa itu biasanya mengikat punggung dan lututnya dengan kain, supaya bisa duduk dengan enak, seperti orang yang bersandar ke tiang atau tembok. .